Pantas dibaca untuk orang muslim yang sedang belajar menjadi baik
Tulisan berikut adalah perenungan sulit bertahun-tahun, dari pemerasan hasil membaca buku-buku dan pengamatan sendiri dari penjelajahan. Uraian sederhana dan penuh kekurangan ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana daya pikir/akal manusia menggiring hati, otak dan badannya untuk menjangkau tentang “penemuan” yang akan menjawab pertanyaan mendasar sebagai batu pertama peletakan pondasi MONOtheisme yaitu “adakah Dia?” . Semoga orang yang tersasar membacanya sejenak dapat memperdalam pemikirannya mengenai konsep ini karena bahasa yang digunakan adalah bukan untuk orang “putih”. Sebenarnya pikiran-pikiran ini dibuat untuk intern, namun karena sesuatu hal maka saat setengah jadi dibatalkan dan diedit lalu diputuskan untuk dipublikasikan saja. Semoga Allah mengampuni penulis atas riya’ yang mengontaminasi cawan berbagi ilmu ini. Mohon diralat jika terjadi kesalahan konsep ataupun kalimat, karena penulis masih dalam tahap membaca dan mempelajari, belum mengajarkan.
Sejak lahir manusia menerima begitu banyak informasi dari lingkungan sebagai bekal untuk bertahan hidup dan melangsungkan kehidupan. Diantaranya adalah ilmu agama yang diajarkan orang tua sejak kecil, dipaksa guru, atau sekedar membaca selebaran khotbah saat sholat sekali setahun. Secara gamblang agama mengajarkan eksistensi-Nya. Namun seberapa siapkah akal manusia untuk menerima teori tersebut sehingga rela menyembah-Nya walaupun belum pernah melihatnya sekalipun. Bahkan beberapa orang menganggapnya doktrin searah, bukan tujuan hidup. Ada kemungkinan bahwa da’i cilik di TV pun saat akalnya mulai matang akan meragukan keberadaan-Nya di dalam batin dengan pertanyaan “benar nggak sih ada Dia?”.
Setiap orang yang mempercayai-Nya mungkin akan terus mengevaluasi dan merefresh pertanyaan ini seiring terkikisnya posisi Dia dengan sesuatu atau seseorang, misalnya keris, kuburan, batu ponari bahkan pacar. Lalu bagaimana supaya tertanam keyakinan yang mudah luntur ini?. Yakin terhadap suatu pernyataan atau teori dapat diperoleh melalui jalan mengamati, menguji dan menyimpulkan dengan semua alat indera yang dipunyai dan dikomandoi oleh otak. Memikirkan masalah dengan logika. Seperti itulah cara manusia sejak dahulu menganalisa suatu fakta. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara kita mengamati Dia, padahal tidak pernah memperlihatkan diri-Nya? Salah satunya adalah mempelajari jejak-jejak perbuatan-Nya. Kemudian bagaimana mengetahui apa saja yang telah Dia perbuat sedangkan kita tidak mengetahui apa saja hasil pekerjaannya? Untuk itu perlu cek silang antara pernyataan agama dengan kenyataan yang ada yaitu mengenai hasil karya-Nya yang paling rumit : alam semesta.
Mari mencoba berpikir secara objektif dengan imajinasi yang secuil untuk memahami ukuran diameter partikel subatomik sampai membayangkan molekul transparan yang melayang-layang. Sebenarnya terlalu banyak tanda-tanda itu namun mungkin terlalu sedikit pikiran yang mengarah kesana karena selalu dibelokkan kepada arah materialisme yang menyatakan alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir. Bahkan sangat jarang kurikulum yang dirancang untuk membahas masalah ini.
Mencari-Nya dapat dengan memahami salah satu sistem alam semesta seperti atom, molekul, sel, tubuh manusia, bumi, tata surya, galaksi dst. Sebagai contoh: gambar berikut adalah tahap-tahap metabolisme utama yang terjadi pada sel secara umum.
Bayangkan, satu titik adalah hasil antara dan setiap jalur antar titik membutuhkan satu enzim kompatibel. Untuk pemahaman dangkal, enzim adalah suatu “gumpalan daging” /polipeptida yang sangat kecil. Benda ini terbentuk dari “sari pati daging” (molekul asam amino) yang sambung menyambung sangat panjang kemudian melipat-lipat sesuai “kait” yang terdapat pada setiap manik-maniknya (asam amino) kemudian membentuk suatu gumpalan. Mungkin seperti kalung mutiara yang di padatkan tak teratur lalu diikat. Struktur ini memungkinkannya dapat mempercepat reaksi dari substrat menjadi produk. Produk dari enzim sebelumnya menjadi substrat enzim selanjutnya. Perbedaan antara substrat dan produk terdapat pada “bentuk” molekulnya. Setiap garis yang menghubungkan antar titik memiliki bentuk enzim yang berbeda dan sangat spesifik. Ada jalur utama (“jalan negara”)yang terdapat pada sebagian besar jenis sel, ada pula jalur sekunder (“jalan provinsi”) yang aktif pada jenis sel tertentu.
Setiap proses yang terjadi pada suatu jalur tertentu akan mengalir kemudian membentuk suatu hasil akhir yang telah diatur sesuai kebutuhan organisasi sel tersebut. Jika suatu proses pendek tertentu tidak diperlukan lagi karena hasil dari proses tersebut sudah mencukupi, maka sistem pengorganisasian sel akan menonaktifkan jalur itu dengan tidak memproduksi enzim terkait. Begitu pula sebaliknya, jalur yang dibutuhkan akan diaktifkan dan dipelihara tetap memproduksi suatu bahan antara. Pengaturan inilah yang dapat mengefisiensikan energi yang tersedia di dalam sel. Pengaturan seperti saklar ini terjadi karena adanya suatu jalur yang melibatkan enzim juga yang dinamakan transduksi sinyal.
Semua reaksi itu terjadi pada suatu ruang yang sangat kecil (antara 0,1 s.d 50 um; 1um adalah 1mm dibagi 1000) yang dibungkus kantung sangat tipis dan sangat selektif. Dalam ruang sesempit itu jutaan protein seperti itu saling berinteraksi, mempengaruhi, terkait dan teratur untuk menyokong agar sel tersebut tetap menjalankan sistem (hidup). Terdapat 2000 jenis protein pada bakteri sederhana sedangkan pada sel manusia terdapat 200.000 protein berbeda. Bila ada nutrisi yang masuk maka akan dipanen energinya yang dikemas dalam paket-paket energi (ATP) lalu didistribusikan kepada bagian jalur yang membutuhkan. Jika salah satu tidak berfungsi maka terjadi kerusakan sebagian atau seluruh sistem gagal. Jalur diatas belum melingkupi sistem yang mensintesis molekul “pekerja” itu yaitu DNA yang berisi rumitnya informasi cetak biru pembangunan sel.
Informasi pada DNA mengatur perkembangan dan pertumbuhan sel seperti gambar detail seorang arsitek menentukan spesifikasi dan bentuk suatu bangunan. Informasi tersebut terbentuk dari 4 jenis molekul yang berpasangan, setiap pasangan disusun berbaris seperti tangga, pembacaan informasi didapat melalui kombinasi tiga jenis pasangan baris yang berbeda (3 anak tangga), sederetan banyak anak tangga dapat mensintesis satu rantai polipeptida menjadi enzim, dan masih banyak lagi persyaratan lain yang mengaturnya. Jika suatu gangguan acak merubah susunan anak tangga ini, maka protein yang dibuat menjadi kacau karena manik-maniknya (asam amino) akan berbeda. Perbedaan satu saja manik-manik maka akan merubah pelipatan secara keseluruhan enzim. Satu enzim salah dibuat maka satu jalur tertentu gagal dilaksanakan. Satu jalur metabolism tertentu tidak dapat bekerja maka hasil akhir jalur tersebut tidak dapat dibuat yang menyebabkan kekurangan suatu bahan yang dibutuhkan. Kurangnya suatu bahan yang diperlukan dapat mengakibatkan kematian sel. Oleh karena itu sangat fatal jika terjadi perubahan pada paket-paket informasi tersebut. Seperti halnya anak kecil yang tidak sengaja merubah takaran semen atau letak besi baja pada arsitektur bangunan, maka bangunan dapat dimungkinkan hancur karenanya. Logika inilah yang membantah bahwa mahluk hidup dapat berubah seiring perjalanan waktu.
Memang jika berimajinasi dengan jalur metabolisme dan pengaturannya adalah sulit untuk dinalar jika sel merupakan produk dari molekul-molekul organik (benda mati) yang disambar petir. Analoginya adalah sangat kecil kemungkinannya jika suatu rongsokan part-part kecil di bengkel pesawat terbang yang disapu angin puyuh lalu tiba-tiba menghasilkan sukhoi Su-27. Kejadian ini bila dihitung secara kementakan maka perbandingannya 1 : 10 40.000. Sebagai catatan sistem sel lebih rumit daripada sistem avionik sukhoi. Tanpa dituntun pasti kita akan berpikir ada insinyur yang merakitnya bukan karena angin, sedangkan dalam kasus sel ini untuk sementara insinyur itu disebut “faktor X” atau “tangan rahasia”. Mau tidak mau pemikiran kita akan terkerucut kepada istilah Tuhan untuk menggantikan kekuatan itu bukan menggantinya dengan alam itu sendiri, karena alam tidak berkesadaran. Setiap orang yang memiliki akal sehat, logika murni tanpa teraduk dengan perasaan yang telah mempelajari salah satu sistem di alam semesta pasti akan terkejut dengan kerumitannya yang tidak terhingga dengan hasil yang sangat teliti.
Kesimpulannya adalah kehidupan itu dirancang dan diciptakan oleh suatu kecerdasan yang berkesadaran.
Bersyukurlah kita yang mendapat kesempatan mempelajari ilmu alam. Lalu bagaimana dengan orang desa pencari kayu bakar yang taat yang mengira atom itu sebagai salah satu kacang? Selain memiliki otak, manusia juga punya hati (bukan liver) yang organnya masih tidak bisa dibuktikan ilmu kedokteran. Hati inilah yang bekerja mencari sesuatu yang abstrak yang sulit dijangkau nalar, karena tidak selamanya percaya itu dibuktikan dengan data empiris. Yakin tidak harus berbukti.
Akhir kata; jika penalaran diatas adalah benar maka tidak ada keraguan dalam menganalogikan pernyataan-Nya yang lain pada referensi (kitab) yang belum atau tidak akan terbukti oleh ilmu pengetahuan. Semoga setelah membaca ini kita dapat mengurangi sedikit demi sedikit rasa bahwa kitalah sebagai pusat alam semesta dan mengurangi ketergantungan kepada sesama ciptaan-Nya.
Maaf tanpa referensi, hanya berbagi
Read More......

